Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Agustus 2019

Surat Nailah

Makassar, 03 April 2019
Untuk;                                                                                                
Guru Terbaik, Bu Reski

Assalamu alaikum. . . .
Bu Reski apa kabar? Aku harap Bu Reski baik-baik saja. Bu Reski aku rindu sekali denganmu. Beberapa hari ini aku merasa akan kehilangan guru tersayang dan terbaikku. Aku harap aku tidak akan kehilangan dirimu, tapi kau harus pergi dari sekolah ini untuk mengajar di sekolah lain. Semoga Bu Reski tidak akan pernah melupakanku, Bu Reski melalui surat ini aku ingin menyampaikan sesuatu.

Bu Reski…
Pertama kali melihatmu aku sangat bahagia, karena mendapat wali kelas yang cerdas, kreatif dan baik hati. Aku ingat pertama kali aku masuk kedalam kelas kami memperkenalkan diri masing-masing, terutama dirimu. Betapa bahagianya dirimu, senyumanmu membuatku merasa bahwa aku sangat beruntung mendapatkan guru sepertimu. Aku juga ingat, kalau dulu aku sangat pemalu tapi kau terus mengajariku tanpa lelahnya dirimu agar membuatku menjadi anak yang percaya diri.

Bu Reski…
Setiap hari kau mengajari kami, menuntut kami agar bisa menjadi penerus bangsa dan negara. Cita-citamu sangatlah mulia, sehingga membuatku ingin seperti dirimu. Kau adalah guru yang ceria, kau masih mengajari muridmu yang tidak bisa membaca ataupun menulis. Kau mengajari kami membaca buku agar gemar membacanya, kau selalu memuji dan menyemangati di manapun itu.

Bu Reski…
Atas dukungan dan ilmu yang kau berikan padaku, aku berhasil naik ke kelas V.  Aku tidak akan melupakan semua yang telah kau berikan kepadaku. Bu Reski aku sangat berterima kasih atas semua jasa-jasamu. Kau akan terus menjadi guru favorit dan kesayanganku serta guru terbaikku. Aku akan sedih atau bahkan menangis karena kehilanganmu, tidak akan kelupakan semua itu, tidak ada yang bisa kuucapkan selain terima kasihku untukmu.

Aku berjanji akan membuatmu tersenyum bahagia di suatu hari nanti. Bu Reski, surat ini kucukupkan sampai di sini. Bu Reski jaga kesehatanmu, aku akan belajar giat dan bersungguh-sungguh untuk mencapai cita-citaku. Sampai jumpa Bu Reski, aku tidak akan pernah melupakanmu.I Love You …

Dari Muridmu


Akifa Nailah Idris


***
Lieb...

Mata saya sedang hangat. Saya baru saja membaca ulang selembar surat dari Nailah, anak wali saya dua tahun lalu. Perempuan manis yang berkacamata, senyumnya selalu meneduhkan.  

Sejak lulus kuliah saya mengajar di MI Tahfizul Qur’an - Yayasan Al-Azhar. Waktu yang sangat singkat untuk mengenal dan belajar banyak hal. Persaudaraan dan kesederhanaan di tempat ini sangat kuat, saya tidak perlu berpura-pura di tempat ini, cara saya berbicara, tertawa, dan berperilaku kadang berlebihan. Tapi mereka tidak pernah berubah,  selalu saja mengingatkan dalam kebaikan. Kadang saya mengeluh dan menggerutu tidak jelas, tapi, ada-ada saja yang membantu dan menguatkan saya

“Surgakan perasaanmu.” 
Dua kata itu selalu saja membuat hati saya tenang.  

Tingkah anak-anak yang polos membuat saya betah untuk mendengarkan cerita dan harapan-harapan mereka. Puluhan anak-anak yang luar biasa, yang benar-benar membuat saya tertantang menjadi agen of change bagi mereka.

Terima kasih,  ya Allah. Tiga tahun ini saya belajar dari siswa-siswa yang sulit memahami materi, saya belajar dari mereka yang sangat aktif dan lincah. Bagi saya,  mereka adalah rezeki.  Bagaimana tidak,  Ilmu saya bisa bertambah karena kehadiran mereka.  Kesabaran saya bisa berlipat-lipat karena kehadiran mereka. 

Dan yang paling saya nikmati adalah ketika mereka tersenyum dan membisikkan sebuah kalimat,  "Buu...  Ternyata gampangji. Bisa meka jawabki bu."

Ahh, bagaimana mungkin saya tidak berterima kasih kepada-Mu, jika kenikmatan hati ini terus-menerus muncul dari hari ke hari di tempat sederhana ini. Hal istimewa lainnya ketika mereka menulis surat dan menyimpannya di laci meja, menyelipkannya di buku,  atau menempelkannya di dinding emosi.  Lieb... Anak-anak selalu tulus. 

Mereka tulus menulis, mereka tulus mendoakan. 

Big hug ..... 

Tisuu..tisu…mana tisuuuuu.


***

Kamis, 23 Juni 2016

Skripsi itu Menggemaskan

 “Skripsi itu gampang. Ikuti saja prosesnya!”
Pesan itulah yang selalu saya ingat, pesan yang saya dengar dari salahsatu Profesor UINAM. Profesor yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor Bid. Kamahasiswaan, saat ini menjadi Dekan di Fakultas Ushuluddin UINAM. (Saya tidak akan menyebut namanya. Kalau kalian mahasiswa UINAM, pasti kalian mengenal beliau.)
Sejak MABA, saya sangat senang mengikuti seminar atau workshop di kampus. Terutama workshop penulisan Karya Tulis Ilmiah, hampir setiap tahun saya mengikutinya, meski harus merogoh kocek puluhan ribu, saya tidak akan berpikir lama dan menyesal. Workshop itulah yang akan memberikan kita pengetahuan baru, dan pasti tidak akan kita dapatkan di bangku kuliah. Sangat menyenangkan!
*
Benar, bahwa skripsi akan menggangu tidurmu, skripsi akan menguji keseriusanmu. Skripsi yang akan memintamu berkorban lebih. Dan pasti, SKRIPSI itu akan menjatuhkan air mata dan melahirkan senyummu yang manis. *ehh
Skripsi itu menggemaskan. Sangat menggemaskan!!!

Kamu harus FOCOS, skripsi itu hanya butuh usaha yang lebih besar dari biasanya. Harus lebih sabar menghadapi dan menunggu pembimbing, pegawai atau pejabat yang super sibuk. Pelbagai pengurusan akan menguji kesabaranmu. Pelbagai syarat ujian juga bermacam-macam, mulai dari bukti pembayaran SPP, nilai hasil studi, berita acara, pengesahan draf, bukti telah mengikuti seminar, bukti bimbingan skripsi, sertifikat toefl, hasil hafalan juz 30, sertiifikat kkn, sertfikat cbt, sertifikat opak, hasil ujian komprehensif dan lain sebagainya. #haddeehh
Tapi, lalui saja, nikmati saja prosesnya, semua akan indah pada waktunya. Awalnya memang berat, laksanakan saja. Jangan menunda ini dan itu.
“JANGAN MENUNDA INI DAN ITU”
(Selain Allah, tidak ada yang tahu perihal kematian, betapa menyesalnya saya kalau tidak sempat menghadiahkan gelar serjana untuk keluarga, atau mereka yang tidak sempat menunggu saya. Saya hanya takut ada yang meninggal atau ditinggal untuk saat itu. Keluarga adalah semangat terbesar saya.)
*
Hampir lima bulan berkutat dengan skripsi.  -_-
Sebelum ujian skripsi, saya harus ujian komprehensif dulu. Untuk ujian komprehensif, saya membutuhkan waktu hingga beberapa pekan. Tiga penguji saya adalah Dr. Kamsinah M.Pd.I (Ilmu Pendidikan Islam), Dr. Salahuddin, M.Ag. (Dirasah Islamiyah), dan Dr. H. Muh. Sain Hanafy, M.Pd.(Metodelogi Pembelajaran Agama Islam)

Meskipun nilai ujian komprehensif tidak berpengaruh apapun dalam nilai akhir, saya  harus belajar semaksimal mungkin. Membaca beberapa buku wajib, menghafal surah ini itu, ayat ini itu, hadis ini itu, pasal ini itu, teori ini dan itu… ahh..#sangat menguras.
Tapi, seperti prinsip saya, harus berbuat semaksimal mungkin. Dan Alhamdulillah, semua penguji memberi saya nilai empat (4). 
Saya sempat tertinggal jauh, teman-teman saya sudah persiapan ujian meja, Saya masih sibuk menambah beberapa informan. Risiko dibimbing langsung oleh Dekan Fakultas Tarbiyah, beliau tertarik dengan judul skripsi saya dan ingin menerbitkannya menjadi jurnal. Jadi, harus direvisi beberapa kali, harus lebih sabar menerima komentar dan menambah  ini dan  itu lagi.
Harusnya bisa lebih cepat dari itu, alasan satu-satunya kenapa saya lambat adalah organisasi, saya masih sibuk berorganisai. Sejak semester dua, saya sudah menceburkan diri dalam dunia organisasi. Tak jarang, saya sering mendapat ocehan dari bapak, mama, dan kakak:
 “Sudah-sudahmi dulu organisasi. Kerjami dulu skripsimu!”
Aaaaaa…. Deh… Hal seperti itu yang membuat saya lemah. Ada rapat ini dan itu, ada pertemuan tiap pekan, ada yang mau konsultasi ini dan itu. Huft. . .  #HayatiLelah
 Saya juga mau focus, tapi organisasi telah memberikan saya beberapa amanah. Disaat teman-teman saya focus dengan akademik saja, disitulah, terkadang saya merasa sedih. Harus membagi pikiran, tenaga, dan waktu untuk keduanya. Organisasi dan akademik. Menyeimbangkan keduanya.
*
Dan akhirnya, nama penguji, hari dan tanggal ujian skripsi telah ditetapkan. Mama saya sengaja ke Makassar untuk membantu persiapan ujian skripsi, menyediakan seragam hitam putih, dan pasti selalu mendoakan saya.
Kamis, 24 Maret 2016, sebelum pukul 08.00, ketua sidang telah membuka ujian skripsi, selanjutnya menunggu kedua penguji. Penguji pertama saya adalah. Dr. H. Arifuddin S., M.Pd., penguji kedua adalah Pak Kaimuddin, S.Pd.I, M.Si. Saya tidak mengenal mereka, kami tidak pernah bertemu sebelumnya (kecuali saat menyerahkan skripsi beberapa hari yang lalu, skripsi yang siap di corat coret dan dipertanyakan ke saya. #sayadiserangcemas

Saya memulai ujian skripsi sekitar pukul 11.00 hingga pukul 16.00 WITA.
Untunglah ruangan ujian yang begitu dingin tidak membuat saya membeku. Abstrak saya bacakan dengan lantang, tidak sekadar menghafalkan, tapi berusaha mentransfer perkataan saya agar penguji mengerti dengan baik.
“Biar satu hari, skripsi ini tidak akan selesai kalau mau dibahas. Judulmu menarik, Reski. Harus dikuliti hingga ke akar-akarnya. Ini menyangkut kemajuan UIN” tegas penguji diakhir ujian.

(Kenang-kenangan dari penguji)
Entah nilai berapa yang saya dapatkan.
“Ini nilaimu, kau pantas mendapatkannya.”
Bahasa, 3,8 -  Isi 3,8 - Metode  3,9 - Penguasaan 3,85
“Haaah… syukurlah. Terima kasih, Pak.”
Saya masih ingat sekali, penguji pertama sempat mengacungkan jempol dengan senyuman yang sangat meneduhkan,

Ujian pertama saya berjalan dengan lancar, meski harus menungu berjam-jam dan berpindah ruangan hingaa empat kali. Hahaha. *nikmati sajaaa!
Dan akhirnya, kesabaran saya kembali diuji untuk menunggu penguji yang kedua, Dr. H. Arifuddin sementara menguji mahasiswa S3 (promosi doctor) di pasca.. *humtt… .

Setelah beliau menguji di promosi doctor, saya langsung ujian di ruangan beliau. Pascasarjana lantai dua. Saya tegang, suaranya begitu keras dan tegas. Di depan saya Dr. H. Arifuddin didampingi istrinya (*cie cie.. romantis), istrinya juga ikut berkomentar saat saya diuji, seakan-akan penguji saya ada tiga orang untuk hari itu. 
Banyak yang dipertanyakan, universitas lain juga dijadikan contoh, teori dan dalil ini dipertanyakan. *Oh Tuhann. Sama sekali, saya tidak pernah memprediksi pertanyaan ini muncul. Untunglah saya bisa menjawabannya. Setelah puas menyerbu saya dengan pertanyaan ini dan itu, penguji langsung meminta berita acara dan memberikan nilai.
Bahasa, 4 -  Isi 4 - Metode  4 - Penguasaan 4.
Setelah itu, saya mengucapkan terima kasih dan kembali ke ruang jurusan.

Lah... saya heran. Kenapa nilainya  EMPAT (4). Sangat Sempurna. Saya terdiam, sebenarnya heran dengan angka itu. tapi, nyatanya angka itu yang memang keluar dari mulut penguji. Nilai memang bukan segalanya, tetapi, kau bisa melihat sebarapa keras usahamu untuk mendapat nilai itu. Kau pasti tersenyum merekah, dan bisa jadi matamu tiba-tiba berkaca-kaca. Alhamdulillah!!!
Ujian skripsi itu tidak susah. Asal kita menguasainya dan bisa mempertahankan argument kita. Itu saja!!!
*
“Berdasarkan hasil dari kedua penguji, Adinda Reski Indah Sari telah berhak menyandang gelar sarjana Pendidikan Islam. Reski Indah Sari, S.Pd.I.”
Kalimat itu diucapkan oleh ketua sidang. Perasaan saya bahagia. Tentu saja. saya telah menemukan garis finish. *aaaaaaa target saya untuk lulus lebih cepat bisa terwujud. Tiga Tahun Enam Bulan. Lebih cepat dari biasanya.
Dan saya masih ingat jelas pesan ketua sidang sekaligus ketua jurusan sore itu,
“Selamat… Setelah sarjana apa? Beban kalian akan lebih berat? Minimal jangan munyusahkan orang tua, jangan buat masalah!”
Saya melihat harapan yang baik di mata beliau, tatapannya dalam. Menularkan semangat kepada kami.
*
“Alhamdulillah, akhirnyaaaa!!!.”
Setelah yudisium, dua kata inilah yang saya gumamkan dalam hati. Saya berhasil mencapai target saya yang kesekian. Saya tersenyum. Ada sesuatu yang menyentuh hati saya dengan lembut. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengangkat diri saya dengan keras. Dan saya yakin. Itu pasti doa-doa dari orang-orang yang menyayangi saya. Tanpa doa-doa mereka, saya tidak yakin bisa mencapai target ini.
Skripsi itu menggemaskan, seperti kamu. ^ ^
*

Terima kasih untuk kedua pembimbing saya, Dr. H. Muhammad Amri, Lc., M.Ag. & Dr. Nuryamin, M.Ag. Para penguji saya di ujian komprehensif dan ujian skripsi. Untuk orang-orang keren di jurusan PAI, PAK Erwin, Pak Usman, Kak Ifa, Kak Bahar, Bu Rosmiati, Pak Yahdi., dll. . . .
Dan pasti, untuk teman-teman seperjuangan saya di jurusan PAI. Teman yang setia untuk  menunggu berjam-jam hingga berhari-hari. Terima kasih sudah saling menyemangati. Terima kasih untuk cerita-cerita menariknya. Sekali lagi terima kasih!!!
*Rindu akan tumbuh dengan baik…
*
Setiap niat yang baik akan terjaga dengan baik. Saya berhasil melawan zona nyaman, setidaknya, hari itu saya membuktikan bahwa dunia organisasi tidak menjadi alasan untuk terlambat sarjana, organisasi tidak akan mengganggu akademik kita. Kalau bisa lebih cepat, kenpa harus lambat.
Ada doa-doa yang mereka langitkan (baca: orang tua), ada harapan yang diam-diam mereka simpan dalam pundak kita. Dan barangkali, harapan itu mereka simpan dalam doa-doa yang tidak akan mereka katakan pada kita.

Entah berapa puluh juta yang mereka keluarkan untuk pendidikan kita. Dan entah berapa banyak keringat dan air mata yang mereka jatuhkan. Mereka mencintai kita tanpa alasan. Menyayangi kita tanpa akhir. Mereka juga berhak melihat kita “sarjana”. Mereka sangat berhak.

Skripsi itu menggemaskan. Skripsi itu akan selesai asal kalian berkorban lebih dari biasanya. September menunggu kalian untuk wisuda  angkatan 75. Tetap semangat, semoga berhasil!. Aamiin!!!
***



Sabtu, 27 Februari 2016

Perihal Cinta Pertama


0.
Sebelum menulis catatan ini, saya harus benar-benar memaksa ingatan saya untuk kembali pada perasaan dan kejadian beberapa tahun lalu. Saya terkadang senyum-senyum sendiri kalau harus flashback dengan perasaan yang seperti itu. Perasaan yang “dulu” membuat saya “dumba-dumba” dan senyum-senyum sendiri.

Ahaaa.. wajar, sangat wajar-- *anak kelas satu SMA yang masih sangat labil.

Beberapa malam yang lalu, Hasvira butuh tantangan untuk menulis di blog sesuai tema yang disarankan dari teman facebooknya. Saya memberinya tantangan untuk menulis tentang Cinta Pertama dan Buku Paling Keren yang pernah dia baca. Saya menantang dia untuk menceritakan pengalamannya saat merasakan cinta pertama. 

“Harus dimulai dari mana untuk menuliskan ini? *pulang balik wc, cari ide biar kelihatan fiktif padahal fakta. Terimakasih atas tantangannya, Ekis. Dikerjai Ketua FLP; Cinta Pertama”

Setelah membaca postingan Vira, saya benar-benar tertawa, sepertinya dia gagal move on. 

Eh, tetiba ada makhluk yang muncul (baca: Warti Wahyuni),
“Kita juga kak Eky, masa cuman nyuruh. Yaa, bikin tulisan juga dengan tema Cinta Pertama”

Hastaaga.. saya tertawa, terkejut lalu mengiyakan. 
*Ini. . .
*



Setiap orang punya cinta pertama, kan?
Percayalah, tidak ada kenangan yang benar-benar kau lupakan. Kau hanya berpura-pura untuk melupakannya. *berhentilah menyesali keputusanmu.

1.
Semua orang pernah jatuh cinta, mungkin jatuh sejatuh-jatuhnya atau mungkin hanya kagum biasa. Saya sendiri pernah jatuh cinta, tapi biasa-biasa saja, perasaan ini hanya jatuh beberapa saat. 
*Saya termasuk perempuan yang sulit jatuh cinta. ^ ^

2.
Jangan tanya bagimana saya berkenalan dengannya, saya juga tidak mengerti. Saya benar-benar lupa kapan dan dimana pertemuan itu terjadi, pertemunan kami mengalir begitu saja, barangkali gara-gara organisasi. ^ ^

3.
Seberapa pandai kau menyembunyikan perasaanmu?.
Kau pernah membaca tulisan Ahyar Anwar yang berjudul Kata pada Cinta?

“Katika kita melakukan kesalahan, maka sebaiknya kita segera dan secepatnya membisu. Diam. Tanpa kata, lalu biarkan pengacara yang berbicara, mewakili kita agar kita dapat sedikit bersembunyi. Biarkan pengacara menggunakan keahliannya, memainkan kata melawan kebenaran atau membela kesalahan.

Tapi bila kau jatuh cinta. Kau harus menyampaikannya sendiri apa yang seharusnya kau katakan. Jika tidak, kau akan memenjarakan rasa yang paling menyakitkan langsung pada tempat yang paling rapuh dalam jiwamu, yaitu hati. Rasa itu akan melawanmu, menghancurkanmu dengan cara yang paling mengerikan dari yang mungkin terbayangkan.”

Hmm… , kalau saya??
Biarkan saja, pendam saja, DIAM-(DIA)M SAJA. Begitulah cara saya mencintainya, cara yang tidak akan pernah dia mengerti.

4.
Saya sering mencari-cari waktu yang pas untuk muncuri-curi kesempatan melihatnya. *ahh.. anak kecil.
Saya selalu mendapatinya menunggu seseorang yang entah siapa di bangku depan perpustakaan dan depan laboratorium fisika, kalau tidak salah ingat, bangku panjang itu berwarna biru.  

Hmm, kenangan itu masih ada, ada di buku-buku perpustakaan, ada di gelas-gelas ukur laboratorium fisika dan pasti di hati kami masing-masing.  
(Saya juga sangat yakin, “dia” pasti membaca tulisan ini.)  
*Jangan tersenyum dulu, “kau baik-baik saja, kan?”  
*semoga

5.
Cinta pertama saat SMA masih perasaan aneh dan tidak jelas. Cinta Pertama yang “sesungguhnya” belum saya rasakan. Ruang itu masih kosong dan saya masih menjaganya serapat mungkin hingga detik ini. Ruang itu untuk seseorang yang entah siapa dan entah di belahan bumi mana saat ini.  


*setidaknya saya sudah menjawab tantangan kalian, tantangan kita bertiga. hahaha
^ ^
***
Makassar, 27 February 2016

Jumat, 26 Februari 2016

KKN UIN Alauddin

Cie ciee… yang bentar lagi mau KKN, selamat.. selamat.. dan bersiaplah menjadi mahasiswa manis selama dua bulan. Hahaha *pengalaman

Guys…
Saya sangat sepakat dengan Donny Dhirgantoro, akan selalu ada suatu keadaan, kenangan, dan orang-rang tertentu yang pernah singgah dalam hati kita dan meninggalkan jejak langkah di hati kita dan kita pun tidak pernah sama lagi seperti kita sebelumnya. *hiksss

Ceritanya berawal dari KKN…
Lokasi KKN saya di Kampung Kajang, Kel. Tamangapa alias ANTANG Makassar. Bukan karena nepotisme, tapi ada beberapa alasan mengapa saya menentukan sendiri lokasi KKN waktu itu. Urusan lokasi yang dekat atau jauh bukanlah masalah, semua tergantung cara kalian menikmatinya.:)  
Mari saya perkenalkan para Rangers Antang.


Mereka saudara yang baik, keren, konyol bin ajaib. Ada yang dewasa dan ada yang calm, ada yang bijak, ada yang jago masak, ada yang jago dandan, ada yang rajin ibadah, ada yang modus, ada yang tomboy, ada yang menyebalkan, ada yang aneh, ada motivator nikah muda (maklum, dia sudah berkeluarga) dan bla bla bla…, ahh.. sempurna.  (Kisah Kasih di KKN)  

Tidak butuh waktu yang lama untuk akrab dengan mereka. Anggap teman posko kalian sebagai keluarga lama yang kembali dipertemukan, anggap mereka saudara.

*Pleaseee… selama KKN, tolong jangan ada yang BAPER. Efek BAPER pasti CINLOK, dan endingnya tidak akan keren kalau hanya bertahan beberapa pekan. *aduhh. . .
*
Apa Sebenarnya Arti KKN? Bagaimana rasanya KKN? Apa yang harus dipersiapkan?
Loh loh loh . . . makanya kalau pembekalan perhatikan, Nak. 


Dari pengalam saya beberapa bulan kemarin, KKN atau Kuliah Kerja Nyata akan mengajarkan kita untuk mengelola emosi, menjadi mahasiswa yang manis dan dewasa, pandai merancang program kerja, dan menjadi mahasiswa yang mampu mengatur waktu sebaik mungkin.

Rasa KKN itu seperti permen NANO-NANO. 
NIKMATI saja dan jangan terlalu serius.
*
Kali ini saya akan memberikan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dan dipersiapkan saat KKN. Alhamdulillah program kerja yang kami rencanakan berjalan dengan baik berkat bantuan para Rangerss. 

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah :
1. Persiapan Sebelum Berangkat
  • Guys. . . sebelum berangkat KKN tolong perbaiki niat kalian. Niatkan dari awal kalau kalian ingin mengabdi di masyarakat, bukan niat yang aneh-aneh. Ada loh yang niat cari pacar. *huhhh
  • Searching, kalian wajib untuk menggali informasi tentang kondisi desa yang akan kalian tempati selama KKN.
  • Pakaian, tidak perlu membawa pakaian 2 koper. Kalian bisa mencusi, kan?? Hmm., bawa saja secukupnya. Saat KKN nanti, kalian akan lebih sering kerja lapangan. Eits... ingat alat shalatnya.
  • Jangan lupa minta nomor HP Dosen Pembimbing Lapangan, ketua posko dan rekan KKN lainnya.
  • Uang Saku, yang satu ini sangat menggemaskan. Siapkan uang makan dan uang program kerja selama di posko. Tahun kemarin, standar living cost saya Rp.400.000/ bulan. Ada juga yang Rp. 500.000/2 bulan. Untuk uang program kerja biasanya Rp. 50.000-Rp.100.000/bulan. (Tergantung kesepakatan kalian.)
  • Pengurus Inti, kalau kalian berpengalaman di dunia organisasi, tidak ada salahnya kalau kalian mengajukan diri dan mengaplikasikan teori-teori kalian. Pengurus inti seperti Koordinator Desa, Sekretaris, Bendahara dll…. Sebelum pemberangkatan KKN,  akan dilaksanakan pemilihan koor Desa dan koor Kecamatan. Pilihlah orang yang bisa diandalkan, yang berkompeten, karena akan berperan dalam penyuksesan progam kerja.
  • Dann…, saran saya, untuk membantu pembuatan persuratan, sertifikat dan laporan saat KKN, kalian bisa membawa printer ke lokasi KKN *kertas dan tintanya juga, dan pilih juga bendahara yang pandai mengatur uang. *hukkk

2. Pada Saat KKN
  • Hari pertama KKN adalah penerimaan dari pihak desa, biasanya di kantor kecamatan, lurah atau di masjid, setelah itu kalian akan menuju ke posko masing-masing. 
    Guys... ramah dan jalin silaturahmi yang baik dengan dengan warga saat di lokasi KKN yaaa. Terkhusus Ibu dan Bapak posko, anggap dan hormati mereka seperti orang tua kalian. *jadilah anak manis. (Ini foto saya dengan Ibu Posko. Hahaha)
  • Survei lokasi, kalian akan keliling desa, berkenalan dengan warga untuk silaturahmi sekaligus survei kondisi lingkungan. Survei ini bertujuan untuk melihat dan mengamati hal-hal yang dibutuhkan warga dan nantinya dijadikan program kerja. Biasanya survei ini berlangsung tiga hari. Eits…, jangan selalu mengiyakan apa yang diinginkan warga, kalian harus berembuk dengan teman posko yang lain.
Tips buat program kerja :
1. Buat kegiatan yang bersifat mendidik.
2. Hemat tenaga, dana dan waktu.
3. Buat kegiatan yang bisa dikembangkan warga
4. Manfaatkan segala hal-hal yang ada di desa. (plastic, barang bekas,  pohon bambu, dll.)
5. Buat proker yang buat kalian senang melaksanakannya, jangan sampai kerja dibawah tekanan.
6. Prokernya jangan terlalu banyak, secukupnya saja asal terlaksana dan berkesan.
  •  Buku Harian (baca: LKH)


Ini bukan diary tapi seperti diary. Hahaha
Setiap hari harus diisi, mulai dari hari, tanggal, kegiatan, dimana, siapa yang hadir dan anggarannya berapa. Dan berhati-hatilah, suatu waktu akan ada tamu yang tak diundang, dia datang dan memeriksa buku diary itu. *rajin
  • Rapat

Rapatnya lihat sikon yaaa, jangan sampai menggangu tuan rumah. Jangan sampai teriak dan terbahak bak orang kesurupan, jangan ada yang egois, pahami karakter satu sama lain, dan usahakan rapat dulu sebelum mengambil keputusan. Ingat juga untuk mengadakan rapat evaluasi. *hiks..
(kelak, kalian akan merindukan itu semuaaa)

Hmmm..
NIKMATI!!!
Semoga bisa membantu.. ^ ^

Jadilah anak manis. Dan percayalah, bahwa langit selalu menjatuhkan kenangan dimana-mana. Tanamlah kenangan disana, kelak kau akan menjenguk kembali kenangan itu.
*
Dan… RANGERSSS Antang…
Sungguh, saya merindukan kalian. 
 


Thankss untuk kebersamaan, kenangan, tawa dan air mata itu. Rangerss. . terima kasih juga telah mengajarkan saya memasak, memakai Eye Liner, mengontrol emosi dan menjadi anak manis selama dua bulan. Hahaha…

*Saya tidak pura-pura terharu saat menulis catatan ini. ^ ^

***
Beberapa Foto Kemarin. . . 








^ ^
***

Kamis, 31 Desember 2015

2016 dan Perempuan Kopi


“Walau tak ada yang sempurna, hidup ini indah begini adanya.”
#Dee


***
Apakah kamu pernah menikmati secangkir kopi ditengah malam? Saat semua jarum jam terhenti diangka 12, saat ketiga jarum jam berpelukan diangka yang sama?

Nikmati, coba saja! 

^ ^

Entah kebetulan atau apa, saya mengawali tahun 2016 dengan secangkir kopi, membaca kumpulan sajak Didik Siswantono dan menonton film “Filosofi Kopi.

Semenjak memasuki semester lima, saya tiba-tiba jatuh cinta pada minuman hitam yang bernama KOPI. Dulu, awal tahun 2015, ada mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Jogja yang mengajarkan saya banyak hal. Perempuan itu mengajarkan saya meracik dan menikmati kopi. Memaksa saya menggigit biji kopi, menghidu, menghaluskannya menggunakan grinder, menyiramnya dengan takaran air yang harus pas, dan pastinya tidak menggunakan gula lalu meyeduhnya.

Kopi adalah teman yang setia, seperti buku, seperti kamu yang tidak pernah banyak tingkah, selalu tenang hingga seduhan terakhir. 

***
“Nggak ada rasa yang cuma satu. Di balik benci pasti ada cinta, di balik cuek pasti ada sayang, masa di balik pahit aja nggak bisa ada rasa manis? Makanya, kamu harus tahu cara menikmatinya dulu. Hidup juga sama kayak kopi, kerasa pahit kalau nggak tahu cara menikmatinya.”
#28Detik

***

Mungkin,  ada yang ingin mengajak saya minum kopi?  *ehh
Dengan senang hati, kita akan bercerita banyak. ^ ^

Selamat tahun baru! 

(Saat menulis catatan ini, disamping kiri saya juga ada secangkir kopi yang sangat tenang.  ^ ^ 1 Januari 2016)